20 December 2011

Sette Corde Violino

Aku ingin sekali membungkuk dan membantunya memunguti sisa-sisa lukisan yang telah hancur. Tapi, entah mengapa aku hanya bisa memandangnya dengan iba, hingga ia selesai memunguti semuanya. Aku seperti membeku,  entah perasaan apa ini namanya. Aku tak bisa menolongnya, di tengah tatapan puluhan mata sadis. Ah, bodoh! Harusnya aku menolongnya. Setelah dia mulai menjauh dari tempat itu, kupanggil dia,
"Hei, Ruli!" teriakku.
"Mau apa? Mencemooh juga? Pergilah, aku tak mau melihat kalian semua," kata Ruli sinis.
"Tidak, aku hanya ingin membantumu membawa lukisan-lukisan itu"
"Lukisan? Maksudmu sampah-sampah ini?"
"Sampah? Apa maksudmu?"
"Bukannya kalian sering menyebutnya begitu?"

Suara gemuruh awan menghentikan suaraku. Oke aku tak ingin berdebat dengannya, kataku dalam hati. Namun sayangnya, seketika itu juga ia lari meninggalkanku, entah menuju kemana. Aku ingin mengejarnya, tapi langkahnya sudah tak terlihat lagi. Lagipula awan sudah sangat gelap, aku harus pulang.

***

Pukul empat sore. Aku menatap sobekan kanvas dengan penuh tanda tanya. Sebenarnya siapa anak ini? Di sana tertulis Ruli-dari situlah aku tahu namanya-serta sebuah judul lukisan dan tanda tangan. Nampaknya tanda tangan dia. 

Aku harus bertemu dengan Harris, dia harus tahu tentang hal ini. Dia harus tahu akan ada seorang pelukis legendaris dari kota ini...

Judul lukisan itu: "Sette Corde Violino"

No comments:

Post a Comment